Tengah Malam
Malam terasa panjang ketika pikir menjadi malas /
Gundah dan rindu tidur bersama tanpa alas /
Menunggu konversasi yang tak kunjung berbalas

Malam terasa panjang ketika pikir menjadi malas /
Gundah dan rindu tidur bersama tanpa alas /
Menunggu konversasi yang tak kunjung berbalas
Februari lalu, kami berangkat ke Swiss. Kami adalah aku dan teman-teman berserta tante-tante dari Peje Club. Peje Club sendiri adalah sebuah klub untuk alumni dan siswa dari Sekolah Pembangunan Jaya. (Bukan) kebetulan aku bersekolah di sana, maka (bukan kebetulan pula) akupun bergabung bersama Peje Club. Kami berangkat ke Swiss karena tahun ini Indonesia ditunjuk sebagai Guest Country pada acara MUBA (Mustermesse Basel) atau pameran besar yang berpusat di Basel. Pameran itu memamerkan macam-macam, dari mulai makanan, alat-alat rumah tangga, lukisan, sampai mobil antik. Indonesia tahun ini diberikan privilege berupa sebuah area besar di lantai tiga, dan itulah tempat kami akan tampil untuk seminggu ke depan. Tapi simpan itu untuk nanti.

Kami tinggal di kota Basel. Kota kecil yang cukup hangat (untuk Swiss yang dingin) terletak 2 jam jauhnya dari Zurich. Kota ini manis, seperti kue jahe. Banyak bangunan tua dan bangunan baru yang menyerupai bangunan tua. Tetapi tetap saja cantik. Pikirku, di Swiss kami akan dikelilingi toko-toko permen dan coklat, karena Swiss adalah surga coklat, aku cinta coklat, maka aku dan Swiss akan menjadi pasangan serasi. Ternyata Swiss tidak hanya melulu soal coklat, tapi tentang dingin, keju,dan petualangan!

Bagaimana rasanya dihempas dingin tiga derajat celcius untuk pertama kalinya?

Bagaimana rasanya berkendara dengan trem untuk pertama kalinya?

Bagaimana rasanya untuk melihat karnaval di Basel untuk pertama kalinya?


Bagaimana rasanya tampil di teater betulan dan ditonton 300 orang penting dari Basel untuk pertama kalinya?


Bagaimana rasanya setiap hari bangun pagi dan memasang sanggul besar lalu berangkat dengan koper untuk pertama kalinya? (kemudian dipanggil sebagai “Indonesia Airlines”. Kami mirip pramugari sepertinya)


Bagaimana rasanya tampil untuk pengunjung MUBA dan dikenal sebagai Indonesia untuk pertama kalinya?




Bagaimana rasanya dimarahi oleh penjaga stan karena kami menarik pengunjung untuk menonton kami untuk pertama kalinya? :) :) :)

Bagaimana rasanya digaji dengan Swiss Franc untuk pertama kalinya?


Bagaimana rasanya ketika kami berlibur untuk 2 hari dan pengunjung menantikan kami untuk tampil padahal kami tidak ada?


Bagaimana rasanya berjalan di catwalk untuk memamerkan kain Indonesia di Basel untuk pertama kalinya? (Semesta memang sangat humoris)
Bagaimana rasanya perang salju untuk pertama kalinya?



Bagaimana rasanya menonton Sigur Ros untuk pertama kalinya? (sama sekali tidak menyesal menghabiskan tabungan untuk ini!)



Bagaimana rasanya menjejak Mount Jungfrau untuk pertama kalinya?

Bagaimana rasanya melihat tulisan ini di depan restoran di Interalken?

Bagaimana rasanya makan fondue dan jatuh cinta pada Camembert untuk pertama kalinya?





Bagaimana rasanya melepas coat dan sepatu hanya untuk berfoto a la film kungfu di Zürich untuk pertama kalinya?

Bagaimana rasanya berpisah dengan pengunjung MUBA pada hari terakhir kami tampil untuk pertama kalinya?


Bagaimana rasanya mengobrol sampai pagi setiap malam dan bersyukur untuk teman-teman yang selalu ada untuk kita?


Katanya home is wherever your heart is. Katanya lagi home is wherever I’m with you. Katanya lagi-lagi friends are family you choose for yourself. Sepertinya Swiss telah membuat saya jatuh hati. Di Swiss pula saya mempunyai teman-teman yang sudah terasa seperti keluarga sendiri. I am happy to say that Switzerland is our cold home. Hidup itu menyenangkan! :)
(Thank you Kak Gaya, Kak Injas, dan Tante Wiya untuk foto-fotonya :D)
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.“Tapi yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.- Sapardi Djoko Damono

:)
It is a kind of love, is it not?
How the cup holds the tea,
How the chair stands sturdy and foursquare,
How the floor receives the bottoms of shoes
Or toes. How soles of feet know
Where they’re supposed to be.
I’ve been thinking about the patience
Of ordinary things, how clothes
Wait respectfully in closets
And soap dries quietly in the dish,
And towels drink the wet
From the skin of the back.
And the lovely repetition of stairs.
And what is more generous than a window?
Pat Schneider
My third favorite poetry after the boys i mean are not refined and B.
Hello!
Starshine has been reborn in 2013! No, this is not a resolution, I am not the kind to make one, but the old Starshine is deleted and I am ready to start fresh!
How can I be sure that you will not delete this “brand new” Starshine and make another new blog?
Well, on the last day 2012 I want to tweet about the highlights of the year, the best moments and memories I want to keep forever which happened in 2012, but it seems like my brain was too busy running my body it forgot where the drawer of memories are, so I ended up tweeting 10-ish highlights and I forgot the rest. Blah. That’s why I want to keep this blog running, so I can tweet the awesome events in my life at the end of 2013.
So, wish me a ton of luck to keep this baby alive and kickin’! (and The Fault In Our Stars theme is super duper cute I just had to use it and show it off ;})